Rabu, 16 Februari 2011

Pada hari pertama ketika saya sampai di Banyuwangi, saat itu tepat pada minggu kedua di waktu liburan saya. Ringtone gamelan sunda di nokia 7610 saya berbunyi, tanda panggilan masuk. Saya melihat layar dan mengeja huruf yang terpampang. Nomor tak terdaftar di Phonebook. “ kosong- dua-satu” eja saya. Pasti nomor Jakarta. Tapi siapa ya?
“Assalamu’alaykum..”
“Wa’alaykumsalam..”
Perbincangan berlanjut. Bla bla bla bla...
Intinya adalah saya akan dijadwalkan untuk mengikuti tahap interview dari beasiswa yang saya apply beberapa waktu lalu. Alhamdulillah, saya sujud syukur untuk hal yang satu itu. Namun ternyata, interview akan diadakan 7 hari dari hari saya di telpon itu dan interview dilaksanakan di Jakarta, tepatnya di daerah Palapa Pasar Minggu. Arrgghh.. Liburan saya di Banyuwangi.. akan berakhir mengenaskan.. jadi cuma 5 hari.. Huhu T.T Mana puas!
Dengan berat hati saya meninggalkan Banyuwangi tercinta. Meskipun Ibu sangat mendukung saya  untuk kembali ke Bogor dan menyelesaikan interview ini. Celotehan riang yang membuat rumah ramai itu kini telah pergi kembali. Meninggalkan Bapak dan Ibu tercinta, kembali ke perantauan.
-Di Bogor-
 Hari pertama berada di Bogor dihiasi dengan acara bersih-bersih dan menghabiskan jajanan yang dibawa dari Banyuwangi dan Jogja (ke Bogornya transit di Jogja dulu). Hehe.
Lalu saya ingat dengan interview besok. Saya sms kakak tingkat yang sudah terlebih dahulu mendapatkan beasiswa itu. Dan yang membuat saya shock, interview in English! Awalnya saya biasa saja. Merasa siap dengan Bahasa Inggris yang dipunya. Tapi ujung-ujungnya, ketar ketir juga. Saya melupakan beberapa Vocabulary penting yang seharusnya sudah dikuasai. Semalam itu saya membaca ulang aplikasi yang telah saya kirimkan berupa essay, profile, dan additional question yang semuanya in English.

Singkat cerita, hari berlalu. Saatnya interview. Saya mencari alamatnya dengan google map. Melihat jadwal keberangkatan KRL tiap waktunya. Memperkirakan waktu yang diperlukan untuk sampai kesana, agar saya datang tepat waktu.

Singkat cerita lagi, saya menghadapi Interview dengan lancar meskipun beberapa kali lupa vocabnya (Alhamdulillah dari pihak sponsor yang biasanya bule tidak hadir sehingga saya bebas mengekspresikan stlye Bahasa Inggris saya. Haha ^^). Tidak segampang ketika saya ber-cas-cis-cus dengan teman-teman saya, atau ketika saya menirukan aktor dan aktris berbicara di film berbahasa Inggris yang saya tonton, atau ketika saya dan kakak kelas saya berdebat dalam bahasa Inggris tentang ‘donkey’ dan ‘horse’ di Taman Bunga Nusantara. Haha. But, It will be one of my inspiring experiences. Terlepas dari bagaimana hasilnya nanti, yang diumumkan sekitar bulan Juli 2011, saya bersyukur telah melakukan ini sebaik mungkin, dan tidak menyianyiakan masa liburan saya ^^,

Tapi, tetap doakan saya lolos ya kawaaann ^^

Hari berikutnya di Bogor, setelah jenuh menghabiskan waktu dengan menonton ulang film di harddisk saya, akhirnya saya memutuskan untuk memasak!

Menu 1 : Tempe Mendoan

Cerita Singkatnya : Ibu mengiming-imingi saya dengan tempe buatan saya yang akhirnya dimasak menjadi tempe mendoan. Enaak banget katanya. Heu. Akhirnya saya putuskan, saya akan memasak tempe mendoan! 
tempe mendoan buatan saya ^^
 
Resep Tempe Mendoan :

Alat dan Bahan :
Tempe
Tepung Terigu
Bawang Prei
Bawang Putih
Cabe rawit atau cabe merah
Kunyit ( biar warnyanya cantik, kuning gitu ^^)
Daun jeruk ( biar wangi ^^)
Garam
Air
Minyak untuk menggoreng
Wajan

Cara memasak :
1.       Tempe diiris tipis. Ukuran sesuai selera.
2.       Cuci kemudian Rajang bawang prei, Bawang Putih, Cabe rawit atau cabe merah, Kunyit, dan Daun jeruk. Banyaknya bahan ini tergantung selera yaa. Lalu masukkan bahan tersebut ke dalam wadah. Beri tepung terigu kemudian beri air hingga membentuk adonan. Jika terlalu encer, beri tepung terigu lagi. Bila kurang encer, tambahkan air. Beri garam. Aduk rata. Jangan lupa dicicipi ya, hingga rasa pedas dan asinnya terasa sesuai selera(namun jangan berlebihan juga, ntar klo keasinan dikira pengen nikah. Ahehe ^^).
3.       Panaskan minyak dalam wajan dengan api sedang. Tunggu hingga benar-benar panas.
4.       Masukkan tempe dalam bahan adonan. Bolak balik tempe hingga adonannya merata. Masukkan ke dalam minyak panas. Goreng deh.
5.       Eh, itu di gambar yang saya tampilin, ada buncis ijo seger gitu ya. Hehe. Itu si menu makan saya saat itu. Kalo mau juga, beli aja buncis,cuci lalu potong menjadi dua dan di rebus  di air mendidih sebentar hingga empuk.
6.       Tempe mendoan dan buncis rebus enak loh jika disajikan dengan sambal pecel. Kalo saya si, beli sambal pecel yang sudah jadi saja. Hehe.
7.       Tips : Kata orang jawa, mendoan itu adalah tempe yang digoreng setengah matang. Warnanya masih pucat. Namun sesuai selera, saya lebih senang dengan tempe yang warnanya sudah mulai keemasan. Lebih kriuk..kriuk.. Itu mah sesuai selera aja ya ^^
Fakta : Sebenarnya tempe mendoan bukan tempe yang digoreng setengah matang, namun tempe mendoan adalah tempe yang ketika pembuatannya, ‘diperam’ dalam waktu yang relatif singkat sehingga jalinan yang terbentuk belum begitu banyak dan kematangannya belum sempurna sehingga sering dikatakan dengan setengah matang. Itulah hakikatnya arti ‘setengah matang’ itu. Setengah matang saat tempe diperam, bukan saat tempe digoreng. Ambigu ya, sering salah kaprah. Saya juga masih sering salah kaprah dengan istilah tempe mendoan ini. Bagi saya dan sebagian besar orang jawa, tempe mendoan adalah tempe yang digoreng setengah matang dengan lapisan adonan tepung. Hehe. Sumber : Penjelasan dosen saat praktikum Mikrobiologi Pangan. CMIIW.
*beberapa orang sudah mencoba mendoan saya dan merasa puas dengan mendoan ini. Apalagi mendoan saya mempunyai beberapa keunikan. Ada senjatanya. Ranjau!  ^^ Heheh. Alhamdulillah ^^

Menu II : Sup jagung dengan kepiting (Resep aslinya) = Sup jagung dengan udang (resep modifikasi)
Cerita Singkat : Ketika membaca lanjutan dari novel Negeri 5 Menara yaitu Ranah 3 Warna, saya tertarik dengan cerita tentang masakan perancis disana. Dia menyebutkan beberapa jenis masakan perancis yang ada, lalu karena perut saya juga keroncongan saat itu, maka timbullah niat dari hati yang paling dalam (heheh ^^) untuk membuat masakan Perancis.
Setelah googling panjang lebar kali tinggi, saya menemukan resep Sup jagung dengan kepiting. Karena susah mencari kepiting di darmaga, akhirnya saya ganti dengan udang. Alhamdulillah, di warung menjual udang saat itu.
Karena saya lupa cara bikinnya gimana dan resepnya juga sudah raib, saya bagi fotonya aja yaa.. hehe.
Bahan Pembuatan Sup Jagung dengan Udang
Hasil masakan saya : Sup Jagung dengan Udang
 
Rasanya not bad lahh.. tapi sepertinya lidah saya kurang cocok untuk makanan eropa seperti ini. 
 Menu III : Pannetone Bread
Cerita singkat : Pannetone Bread dibuat bersama teman-teman. Selanjutnya biar teman saya saja ya yang menceritakan dan memposting hasilnya . Hehe ^^

5 komentar:

*foodie-blogger* mengatakan...

hyhihi,, ayo2,, mana poto panettone-nyah??
btw deliciosso tu poto2nya, seandaynya bisa diraih, pasti kuraih.......-ngayal-

Miftahgeek mengatakan...

Yuhuuuuu, dapet beasiswa apaan neh ampe interview nya di Jakarta gitu :)

Dyarilonia mengatakan...

@foodie-blogger
poto pannetonenya kan di uni zahra ^^
gak usah ngayal jeng,, bikin lagi aja yukk. ^_____^

@miftah
belom dapet mif.. baru intervieww.. doain yaa ^^

Andhi F. Ramadhani mengatakan...

wahh...wahh...
ada yang jago bahasa inggris satu lagi ternyata.
bisa nih.
*tampang jahat*

kowe iso masak tho pris?!
lomba masak karo aku pie?
hehe..
sido melu baking course ga?
pingin ki, sapa ngerti malah bisa jadi usaha kan malah gayeng.

*foodie-blogger* mengatakan...

akhirnya anti bangkit jugak dari pesbuk. hihihi..
mang ngapa kok males buka blog??
Lha tinggal di-bookmark aja blospotnya trus dengan sekali tekan, insyaAllah nyampei

yow, lagi.. tapi entah kapan

Posting Komentar

Kirim pesan kamu disini....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Copyright (c) 2010 Dyarilonia. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.