Kamis, 02 Juni 2011




Central Park. Manhattan. New York City. Menjelang sore.

Aku tersentak dari lamunan ketika sehelai daun maple berwarna kemerahan jatuh menimpa keningku. Musim gugur tahun ini seolah datang terlalu cepat. Langit terlihat masih membiru cerah dan bernoda kilau matahari. Tak jauh dari tempat dudukku, seorang gadis kecil menggesek biolanya memainkan Ode to Joy Beethoven di hadapan seorang lelaki tua berambut keperakan.

Hatiku berdesir iri melihat kehangatan yang terpancar di mata kakek dan gadis kecil itu. Mereka sama sekali tak terusik oleh musim gugur yang menyelinap diam-diam di balik dedaunan maple. Mataku terpejam. Mataku basah. Aku teringat pada kakekku. Kakek yang membesarkan aku selama setahun ketika aku menginjak kelas 4 SD. Beliau mengajarkanku menjadi gadis kecil yang lincah. Beliau mengajarkanku hakikat dari kebahagiaan. Bahwa kebahagiaan itu adalah tentang bersyukur.

Aku melangkahkan kaki menuju kedai Baggle di seberang jalan. Membeli sekeranjang besar baggle kemudian membawanya ke apartemenku yang tidak jauh dari Central Park. Aku kembali terduduk di meja kerjaku yang terletak di tepi jendela yang kubiarkan terbuka, membawa angin musim gugur yang sejuk. Mataku terpejam kembali. Sulit menghilangkan bayang-bayang kakek dari otakku.

Aku teringat hari itu. Tepat di hari ulang tahunku yang kesepuluh....


Mulutku bersungut-sungut karena kesal. Nilaiku yang biasanya sempurna kini hanya mendapat nilai 30. Memang belum genap sebulan aku pindah dari Lampung (Sumatra) ke Banyuwangi (Jawa Timur), jadi seharusnya wajar jika aku belum menguasai bahasa jawa sehingga nilaiku begitu buruk. Kakek datang untuk menghiburku. Beliau membawakan marning jagung pedas kesukaanku. Tapi aku tetap diam. Ngambek. Kakek tidak putus asa. Beliau menghiburku kembali dan mengajakku ke pantai yang tak jauh dari rumah kakek. Rasa kesalku sedikit mereda. Aku begitu senang bermain di pantai. Begitu mengagumi keindahannya. Aku menggandeng tangan kanan kakek. Tangan kirinya memegang marning jagung pedasku. Pasir putih mulai menelusup jari kakiku. Aku mulai menangis lagi. Aku berkata pada kakek. “ Kakek, aku malu. Aku malu. Bagaimana jika papa dan mama tahu aku mendapat nilai jelek?”. Mata keriput kakek menatapku. “Tidak apa-apa nduk. Nanti kakek ajarin bahasa jawa ya. Yang mana yang kamu belum bisa? Huruf hanacaraka*nya?” Sahut kakek sambil menghapus air mataku dengan punggung tangannya yang telah keriput. “He’em” aku mengangguk sambil menunduk. “Nanti kakek ajarin. Sekarang bermainlah” Kata kakek kembali. “Iya!” Aku berteriak senang. Aku mulai mengusik kerang di pantai dengan tendangan kakiku yang hitam. Dan benarlah, pada hari berikutnya kakek dengan sabarnya mengajariku bahasa jawa hingga larut malam.

Huff! Aku merindukannya. Kakekku. Aku mengambil buku harianku. Aku membuka satu persatu halamannya. Tepat pada lembar kelima puluh. Aku menulis halaman itu ketika aku di tahun ketigaku di SMA. Kakek sedang berada di rumahku untuk menjenguk papa mama ku. Aku kembali bercengkrama dengan kakek. Kakek berkata “Nduk, kamu harus jadi dokter ya. Ben iso nolong wong loro koyok mbah iki (supaya bisa menolong orang sakit seperti kakek ini).” “Iya kek. Insya Allah” sahutku. Hmm.. Itu memang cita-citaku sejak kecil. Menjadi dokter. Namun ternyata Allah tidak menuliskan jalanku disana. Aku dipilihkan jalan untuk meneruskan sekolah di IPB, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Jalan yang juga dipilihkan oleh orang tuaku dan kini menjadi jalan hidup untukku. Awalnya begitu sulit. Namun,akhirnya aku bertemu mereka. Sahabat yang begitu hebat. Pada masa kuliahku di semester lima, aku pernah membuat puisi untuk mereka. Aku mengambil buku catatan harianku saat kuliah di lemari bukuku. Membuka puisi itu..

Sadarkah kawan,
kita dipertemukan bersama
dalam jalinan benang tipis gliadin dan glutenin
dalam misi kecil membodohi mikroba
dalam ledakan kecil di otak
ketika menggores kertas putih itu dengan rumus-rumus ptp.

Sadarkah kawan,
aku mengenal kamu, sahabat terbaikku
dalam iringan gemercik minyak
yang memaksa air keluar dari ubi jalar dalam deep fat fryer
aku mengenal kamu, sahabat seperjuanganku
dalam dentingan tabung durham
dan asam yang terbentuk sesudahnya.

Mungkin inilah saat yang terbaik
Bagi kita untuk mengukir kisah
Menjadi bagian dari sejarah

Aku berharap waktu tak berlalu begitu cepat
Begitu cepatnya sampai akhirnya aku sadar..
Kita sudah semakin dewasa
Kita sudah semakin tua
What do I wanna be
What do you wanna be

Aku terpejam lagi. Mengenang masa kuliahku sepuluh tahun lalu. Bukan sebagai mahasiswa kedokteran, tapi menjadi mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan. Maafkan aku kakek. Aku akan berjuang di jalan ini. Menjadi apapun aku nanti, semoga aku tetap bisa membanggakan engkau. Aku mengambil secarik kertas di meja kerjaku. Mengisi balpointku dengan tinta hitam. Aku bersiap menulis sepucuk surat. Surat untuk kakekku di surga. Tulisan latin-miringku yang berantakan mulai mengotori kertas.

Kakek, kini aku di Manhattan. Bagaimana kabar kakek disana? Kakek, meskipun aku tidak bisa menjadi dokter seperti yang engkau harapkan, namun restui aku kakek. Dua hari lagi aku akan menghadapi sidang disertasiku. Doakan aku agar menjadi doktor yang berguna bagi Indonesia ya kek. Doakan aku kakek, aku ingin membanggakanmu dan papa mama ku. Aku menyayangimu kek. Salam rinduku .

Cucumu.


            Aku melipat kertas yang tidak mungkin terbalas itu. Aku menarik nafas kemudian tersenyum. Tanganku mendekap surat itu di dadaku. Tak ada lagi penyesalan mengendap di hatiku. Musim gugur kali ini telah menyadarkanku. Kebahagiaan itu adalah tentang bersyukur. Bersyukur atas semua takdir yang telah berlalu.

Terima kasih kakek. Sudah lebih dari 10 tahun, namun engkau masih tetap memberiku pelajaran.

            Aku mengambil bahan presentasi untuk sidang disertasiku. Aku membaca kembali bahan-bahan disertasiku. Sayup-sayup lagu Autumn in New York menemani belajarku.

“Autumn in New York
Why does it seem so inviting
Autumn in New York
It spells the thrill of first nighting

Glittering crowds
And shimmering clouds
In canyons of steel
They're making me feel, I'm home

Dreamers with empty hands
They sigh for exotic lands
It's autumn in New York
It's good to live it again”


*hanacaraka adalah huruf aksara jawa.

5 komentar:

Atika Luthfiyyah (TIKA) mengatakan...

love it

pradananusantara mengatakan...

keren, salut...keep posting

Pia mengatakan...

Well...it'll be a true story, ten years later rite, Sista?

Dyarilonia mengatakan...

@mbak tiko, pradanusa, dan mbak opie...

makasi yaaa.. doakan semoga khayalan saya terkabul :-)

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap mengatakan...

Keren...
Sesama anak ITP nih, silahkan berkunjung ke rumah saya
efriyantiazzahra.blogspot.com ^_^

Posting Komentar

Kirim pesan kamu disini....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Copyright (c) 2010 Dyarilonia. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.